Sabtu,19 Mei 2018
TUGAS 9
Sabtu,19
Mei 2018
Nama
: Muhidin Nasir
NIM : E1B107037
E-mail : muhidinnasir1234@gmail.com
Blog :
muhidinnasir123.blogspot.com
No.HP :
082341829749
Creative
summary : Tahap-tahap perkembangan peserta didik pada usia sekolah menengah
(SMA/MA)
Remaja
adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh
pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu
Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja
merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih
banyak dikutip orang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya
krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan
oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada
remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan
identity achieved. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari
identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Dari
beberapa pengertian di atas masa remaja merupakan sebuah periode dalam
kehidupan manusia yang batasan usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu
jelas. Masa remaja ini sering dianggap sebagai masa peralihan, dimana saat-saat
ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari
pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa. Fase-fase masa
remaja menurut Monks dkk. (2004) dibatasi antara usia 12-21 tahun, dengan
pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk masa
remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir.
Remaja
pertengahan (madya) merupakan masa perkembangan remaja pada usia 15-18 tahun.
Karakteristik yang menonjol pada anak usia sekolah menengah adalah sebagai
berikut: Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan; Mulai
timbulnya ciri-ciri sekunder; Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan
menggunakan bahasa asing; Kecenderungan ambivalensi antara keinginan menyendiri
dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan untuk bebas
dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua.Senang
membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan kenyataan
yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.Mulai mempertanyakan secara skeptis
mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan.Reaksi
dan ekspresi emosi masih labil.Kepribadiannya sudah menunjukkan pola tetapi
belum terpadu.Kecenderungan minat dan pilihan karier sudah relatif lebih jelas.
Bagi
sebagian besar individu yang baru beranjak dewasa bahkan yang sudah melewati
usia dewasa remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka.
Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan,
sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki
anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak
konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang
tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab
di mata orangtua, para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan
dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa
mereka pada keinginan untuk mencari jati diri yang mandiri dari pengaruh
orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas yakni remaja adalah waktu yang
kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.
Perkembangan peserta didik pada
aspek kognitif,afektif dan psikomotorik sbb :
1. Perkembangan
aspek kognitif
Pada
masa remaja terjadi kematangan intelektualitas yang berkembang bersamaan dengan
kematangan organ seksualnya. Selain terjadi perubahan fisik dan sosial, juga
terjadi perubahan dalam cara berfikir dan pengolahan informasi. Pada saat
remaja mereka mengalami periode individualisasi, di mana mereka mengembangkan
identitas diri mereka dan membentuk pendapat sendiri yang mungkin berbeda
dengan orang tuanya. Mereka mengalami deidelalisasi terhadap orang tua. Remaja
mulai menyadari bahwa orang tua mereka tidak selalu benar. Akibatnya, sering
terjadi konflik antara orang tua dan anak remaja, yang umumnya berkisar pada
perbedaan antara orang tua dan anak remaja tentang bagaimana mereka memandang
dan mendefinisikan aturan keluarga dan aturan sosial lainnya.
Remaja
mulai merasa bahwa pemecahan masalah merupakan pilihan pribadi, bukan pendapat
orang tua. Meskipun konflik di atas dapat menimbulkan masalah, tapi hal
tersebut merupakan perkembangan yang normal, bukan merupakan suatu ancaman
terhadap hubungan antara orang tua dan anak. Selain harus berfikir kritis,
hendaknya remaja juga menyadari bahwa mereka harus menghargai orang tuanya dan
tetapt meminta nasehat-nasehatnya. Oleh karena itu konflik antara mereka akan
menjadi proses untuk menjadi orang dewasa bagi anak.
Untuk
menunjukkan kematangannya, remaja terutama laki-laki juga sering terdorong
untuk menentang otoritas guru di SMA, sehingga mereka menjadi target dan
pemberontakkan mereka. Cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakkan
remaja adalah :
a.
Mencoba untuk mengerti mereka.
b.
Melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang
ilmu yang diajarkan.
Ulasan (argumentasi) : Saya
setuju bila dikatakan pada tahap kognitif anak SMA/MA adalah tahap tingkat
kematangan intelektual dalam berfikir karena pada dasarnya pada tahap inilah
anak sudah mulai berfikir untuk menyelesaikan masalah secara individualistik.
Anak SMA/MA akan merasa pemecahan masalah adalah sebuah hal yang harus
diselesaikan sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Jadi sifat individualistik
anak SMA/MA disini sangatlah terlihat jelas pada penyelesaian masalahnya dan
tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
2. Perkembangan
aspek afektif
Masa
remaja dikenal dengan masa storm and stress, yaitu terjadinya pergolakan emosi
yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis
yang bervariasi. Di antara fase-fase tersebut juga terdapat fase pubertas
(11/12-16 tahun) yang terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam
menghadapinya. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak lepas dari
bermacam-macam pengaruh, seperti pengaruh lingkungan tempat tinggal, keluarga,
sekolah, dan teman-teman sebaya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya
dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial
tempat berinteraksi, membuat mereka tertuntut untuk menyesuaikan diri secara
efektif. Proses penyesuaian diri tersebut tak jarang menimbulkan masalah bagi
remaja, misalnya remaja menjadi sering melamun, mudah marah, dan menginginkan
kebebasan tanpa batas pada dirinya.
Sehubungan
dengan emosi remaja yang sering melamun dan sulit diterka, maka satu-satunya
upaya yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan peserta didik seprti orang
dewasa yang penuh dengan rasa tanggung jawab moral. Dalam hal ini, guru dapat
membantu mereka bertingkah laku progresif untuk mencapai keberhasilan dalam
pekerjaan atau tugas-tugas sekolahnya. Salah satu cara yang mendasarinya adalah
dengan memotivasi mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
Ulasan
(argumentasi) : Menurut saya perkembangan aspek afektif atau perasaan emosional konstan, kecuali
pada masa remaja awal (12-14 tahun) dan remaja tengah (15-18 tahun). Pada masa
remaja awal ditandai oleh rasa optimisme dan keceriaan dalam hidupnya,
diselingi rasa bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam
dirinya. Pada masa remaja tengah, rasa senang datang silih berganti dengan rasa
duka, kegembiraan berganti dengan kesedihan, rasa akrab bertukar dengan
kerenggangan dan permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir yaitu
pada usia 19 – 21 tahun.
3. Perkembangan
aspek psikomotorik
Kemampuan
psikomotorik ini berkaitan dengan keterampilan motorik yang berhubungan dengan
anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak.
Perkembangan psikomotorik yang dilalui oleh peserta didik SMA memiliki
kekhususan yang antara lain ditandai oleh perubahan-perubahan ukuran tubuh,
ciri kelamin yang primer, dan ciri kelamin yang sekunder. Perubahan-perubahan
tersebut dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu percepatan pertumbuhan
dan proses kematangan seksual yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Perubahan-perubahan
fisik tersebut merupakan gejala umum dalam pertumbuhan peserta didik SMA.
Perubahan-perubahan fisik tersebut bukan hanya berhubungan dengan bertambahnya
ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh saja, akan tetapi juga meliputi
ciri-ciri yang terdapat pada kelamin primer dan sekunder. Perubahan-perubahan
tersebut pada umumnya mengikuti irama tertentu. Hal ini terjadi karena pengaruh
faktor keluarga, gizi, emosi, jenis kelamin, dan kesehatan. Perubahan-perubahan
yang dialami peserta didik SMA mempengaruhi perkembangan tingkah laku yang
ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri mereka,
isolasi diri dan kelompok dari pergaulan, perilaku emosional, imitasi
berlebihan, dan lain-lain.
Ulasan
(argumentasi) : Saya setuju dengan kemampuan
psikomotorik ini berkaitan dengan keterampilan motorik yang berhubungan dengan
anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak.
Jadi menurut saya perkembangan psikomotorik selalu berkaitan dengan perkembangan
pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan
saraf, otot dan otak. Saya juga setuju jika dikatakan bahwa perubahan yang
dialami anak SMA/MA mempengaruhi perkembangan tingkah laku mereka, seperti
halnya saya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) karena
saya memiliki badan yang terlalu kecil jadi saya memilih untuk tidak bermain
bersama teman sekelas pada saat di rumah karena saya malu berjalan ketika
bersama mereka, pergaulan saya sangat terisolasi pada masa SMP,bahkan saya
lebih memilih bermai dengan teman di bawah umur saya.
Komentar
Posting Komentar